OFFICIAL FORUM ROMANSA TERBESAR DI INDONESIA

saat ini anda Saat ini anda mengakses forum INDOROMANCE sebagai tamu dimana anda tidak mempunyai akses penuh untuk melihat artikel dan diskusi yang hanya diperuntukkan bagi member INDOROMANCE. Dengan bergabung maka anda akan memiliki akses penuh untuk mengunduh ebook kami, mengirim pesan teks, dan menggunakan fitur-fitur lainnya. Proses registrasi sangatlah cepat, mudah dan gratis. Jadi jangan ragu untuk bergabung dengan komunitas kami sekarang! Silahkan daftar dan langsung log in untuk dapat mengakses forum ini sepenuhnya sebagai member.

Anda belum log in, silahkan klik ''log in'' dibawah ini...
Jika belum me-register, silahkan register terlebih dahulu dengan klik ''register'' dibawah ini...


*Dapat-kan fitur² rahasia di Forum INDOROMANCE, jika anda meningkatkan jumlah postingan anda...

Segera >KLIK REGISTER< ( tidak sampai satu menit )

''register''


Terima Kasih

Reza De Lavega
Admin INDOROMANCE

bosan menjadi niceguys? pelajari kehidupan alpha male sekarang juga


    empat macam krisis kepemimpinan

    Share

    admin
    Instruktur Utama
    Instruktur Utama

    Male Jumlah posting : 1388
    Join date : 20.07.10
    Age : 29

    empat macam krisis kepemimpinan

    Post by admin on Fri Nov 04, 2011 5:48 pm

    Krisis pertama: krisis keterbelakangan. Kita sekarang sedang menghadapi krisis keterbelakangan yang menyedihkan dalam segala hal. Kita tidak lagi menjadi pemimpin umat, dan kita tidak memiliki elemen-elemen utama untuk memimpim umat. Kendatipun terdapat metode-metode yang bagus dalam Al-qur’an dan Sunnah, namun problemnya adalah: siapakah yang akan melaksanakannya? Mereka yang tidak memahaminya?! Maka benarlah sabda Nabi Muhammad SAW. yang diriwayatkan oleh Abu Darda` r.a. dia berkata: “Pada suatu hari Rasulullah duduk bersama para sahabat, beliau memandang ke langit, lalu berkata: “Telah tiba masanya ilmu dicabut dari manusia, hingga mereka tidak mampu berbuat apa-apa”. Ziyad berkata: “Ya, Rasulullah! Bagaimana ilmu bisa dicabut dari kita, padahal kita masih membaca Al-Qur’an. Demi Allah! Kami akan membacanya dan kami akan menyuruh anak-anak dan isteri-isteri kami untuk membacanya”. Nabi SAW berkata kepadanya: “Bodoh benar kamu Ziyad! Sungguh aku telah menganggap dirimu sebagai ulama kota Madinah. Tidakkah kamu perhatikan Taurat dan Injil pada umat Yahudi dan Nashrani, adakah yang tersisa darinya?”
    Kita mengharapkan tokoh-tokoh yang hidup berjalan di atas bumi sehingga bisa diikuti oleh manusia, saat itulah terjadi reaksi kepemimpinan.

    Krisis kedua: krisis efektifitas: kenyataan penting yang hilang dari kesadaran kita adalah bahwa umat ini diciptakan untuk kekal, bukan diciptakan untuk menjalankan perannya kemudian selesai, sebagaimana halnya dengan umat-umat yang lain. Namun sayang sekali kita tidak lagi merasakan sebagai “Kalian adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia”. Standar kebaikan ini digariskan oleh Rub’i bin Amir, ketika dia berkata: “Allah mengutus kami untuk mengeluarkan umat manusia dari penyembahan manusia kepada penyembahan Tuhan manusia, dari kesempitan dunia menuju keluasaannya dan dari penindasan agama menuju keadilan Islam”. Sedangkan Amru bin al-‘Ash menggambarkan kefektifan bangsa Romawi ketika dia berkata: “Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda: “Hari Kiamat akan datang, ketika dunia di dominasi oleh orang-orang Romawi... kemudia beliau menyebutkan beberapa sifat mereka:
    1. Mereka adalah orang yang paling bijak ketika terjadi fitnah.
    2. Paling cepat sadar setelah tertimpa bencana.
    3. Paling cepat kembali untuk berperang setelah pasukannya tercerai-berai.
    4. Paling baik terhadap orang miskin, anak yatim dan orang lemah
    5. Kebaikan yang paling indah, karena mereka adalah bangsa yang paling bisa mencegah kedzaliman penguasa”.

    Inti permasalahan sebenarnya bukan terletak pada masalah kuantitas, namun dalam usaha dan kerja keras, karena mereka (orang-orang Romawi) bekerja-sama dengan masyarakat dan saling memberikan respon. Mereka membantu orang-orang miskin yang tidak mendapatkan bantuan, pertolongan maupun perlindungan. Mereka adalah bangsa yang mencari solusi. Tidak ada bencana yang menimpa mereka, melainkan mereka mengkaji, menganalisa sebab-sebab dan mencari solusi-solusi yang harus dilakukan untuk bangkit dari krisis.

    Kita memiliki kelemahan dalam seni berinteraksi atau seni memberikan pengaruh kepada orang lain, bahkan dalam wilayah yang terkecil dan terbatas, seperti interaksi ayah terhadap anaknya, guru kepada muridnya dan kepala kantor terhadap bawahannya.
    Krisis kita sebenarnya bersumber pada kelemahan dalam memberikan pengaruh dan pembentukan pikiran dalam akal manusia, kelemahan dalam meluruskan nilai-nilai yang rusak dan menggantikannya dengan nilai-nilai yang benar. Itulah krisis kita, padahal kita memiliki unsur-unsur untuk memberikan pengaruh. Kita memiliki kuantitas yang banyak, metode dan juga fitrah, namun kita adalah buih seperti buih di lautan. Tidak ada nilainya kata-kata yang mati, tidak inspiratif, tidak memiliki nafas dan pengaruh. Ironisnya setiap kali kita melangkahkan kaki kemana saja, kita menularkan penyakit kita ini kepada orang lain.

    Krisis ketiga: krisis kesadaran: Kesadaran akan nilai kepemimpinan dan bahwa kepemimpinan adalah beban yang berat dan amanat. Inilah Umar bin al-Khattab r.a. dia berkata: “Demi Tuhan! Aku tidak bisa shalat dan tidur dengan tenang. Sungguh aku membaca sebuah surat Al-Qur’an, namun aku tidak tahu apakah aku ada diawalnya atau diakhirnya, disebabkan kesusahanku memikirkan manusia semenjak aku menerima berita ini”. Yakni semenjak aku memangku jabatan Amirul Mukminin. Kesadaran ini terbawa sampai mati. Diriwayatkan oleh Said bin al-Musayyab r.a. dia berkata: “Pada suatu hari aku melihat Umar bin al-Khattab r.a. membuat gundukan pasir di padang pasir lalu dia menutupinya dengan ujung bajunya, kemudian beliau terlentang diatasnya sambil mengangkat kedua tangannya ke langit. Kemudian berdo’a: “Ya, Allah! Usiaku telah tua dan kekuatanku telah lemah sedangkan rakyatku tersebar dimana-mana, maka cabutlah nyawaku dengan tanpa menghilangkan hak dan tidak pula melalaikannya”.
    Ketika kesadaran ini hilang, maka cinta kedudukan dan jabatan dan saling memperebutkannya menguasai hati manusia. Hal ini mengakibatkan hilangnya energi dan potensi dengan sia-sia dalam semua bidang, baik dalam rumah-tangga maupun pekerjaan. Sehingga kita menempatkan orang yang tepat dalam posisi yang tidak tepat dan mengangkat orang yang tidak mampu dengan meninggalkan orang-orang yang mampu.

    Krisis Keempat: Krisis Lemahnya Kinerja Pemimpin: di antara krisis yang dilewati oleh organisasi dan instansi secara umum adalah krisis lemahnya kinerja pemimpin. Efek samping dan pengaruh dari krisis ini terlihat pada semua bidang. Oleh karena itu Umar bin al-Khattab r.a. selalu meminta perlindungan kepada Allah dengan perkataan beliau: “Ya, Allah! Aku berlindung kepada-Mu dari semangatnya orang fasik dan lemahnya orang yang bertakwa”. Ada yang bertanya kepada beliau: “Apakah anda yakin bahwa suatu negara yang makmur akan hancur?” jawabnya: “Ya, jika orang-orang jahat menguasai orang-orang baik”.
    Problem yang sedang kita hadapi adalah lemahnya mental kita, kelemahan kita dalam memahami diri kita, kelemahan kita dalam mengenal identitas kita dan kelemahan dalam mengenal Tuhan kita SWT.



    :nice inpo dapatkan DVD eksklusif indoromance sekarang juga, bonus keanggotaan VIP seumur hidup.....http://www.indoromance.net/t60-cara-pesan-paket-dvd-eksklusif-indoromance-all-in-one-4-gb-via-sms

    :nice inpo ----> http://www.indoromance.net/t242-ketentuan-dan-fasilitas-khusus-vip-member


    Ifa
    junior member
    junior member

    Male Jumlah posting : 9
    Join date : 28.02.12

    Re: empat macam krisis kepemimpinan

    Post by Ifa on Sun Mar 04, 2012 1:07 pm

    hmm.. religius bgt..
    kalo begini jd segmented..
    kalo yg non muslim cenderung enggan membaca..

    disatu sisi.. sepertinya penulis msh punya dendam masa lalu..
    blm bs berdamai dgn masa lalu.. icik-icik ehem


      Waktu sekarang Sun Dec 11, 2016 1:02 pm